Gangguan Simetri

A. Gangguan Simetris
Bila terjadi gangguan pada sistem tenaga listrik, maka besarnya arus gangguan akan tergantung kepada tegangan induksi (e.m.f) mesin-mesin pada jaringan, impedansi-impedansi mesin dan impedansi dalam jaringan itu di antara mesin dengan titik gangguan tersebut.
Arus yang mengalir dalam suatu mesin serempak segera setelah terjadinya gangguan, yang mengalir beberapa putaran (cycle) kemudian dan yang bertahan (sustained) atau keadaan tetap, nilai arus gangguannya berbeda cukup banyak karena pengarus arus jangkar pada flux yang membangkitkan tegangan dalam mesin itu.
Tujuan analisis ganguan (hubung singkat) adalah: Menentukan arus dan tegangan maksimum dan minimum pada bagian-bagian/titik-titik tertentu dari sistem tenaga listrik untuk jenis gangguan yang mungkinterjadi, sehingga dapat ditentukan pola pengamanan, relay dan pemutus (Circuit Breaker) untuk mengamankan peralatan dan sistem dari keadaan abnormal dalamwaktu seminimal mungkin.
Bila pada suatu jala-jala terjadi gangguan, arus yang mengalir akan ditentukanoleh gaya gerak listrik (internal emf) dari mesin pada jala-jala, impedansi-impedansinya, dan impedansi- impedansi pada jala-jala antara mesin-mesin dan titik tempat terjadinya ganguan tersebut.Perhitungan arus ganguan pada periode-periode yang berlainan dalammenjelaskan perubahan- perubahan dalam reaktansi dan tegangan pada suatu mesinserempak pada saat arus berubah dari nilai mulanya karena timbulnya suatu ganguan ke nilai keadaan tetapnya.
B. Keadaan Peralihan Dalam Rangkaian R-L Seri
Pemilihan suatu pemutus tenaga (PHT/circuit breaker) untuk sistem tenaga, tidak hanya tergantung kepada arus yang mengalir dalam pemutus hingga pada keadaan operasi normal saja tetapi juga tergantung kepada arus maksimum yang mengalir sesaat dan arus yang harus diputus (disela) pada tegangan saluran dimana PMT itu dipasangkan.Untuk mendekati masalah perhitungan arus awal bila suatu generator dihubung singkat, kita tinjau suatu rangkaian yang mengandung nilai-nilai resistansi dan induktansi bila diterapkan kesuatu tegangan arus bolak-balik.
Misalnya tegangan yang dipasangkan:
Vmax. Sin ( t +  )
Dimana : t = nol pada saat tegangan dikenakan maka  menentukan besar tegangan pada saat rangkaian tertutup.
Bila tegangan sesaat nol dan meningkat dengan arah positif pada saat dikenakan dengan menutup sebuah sakelar,  = 0 Bila tegangan pada nilai sesaat maksimumnya yang positif,  adalah /2.
C. Arus Hubung Singkat dan Reaktansi Mesin Sinkron
Dalam suatu mesin sinkron (seremoak), flux diantara celah udara pada mesin itu jauh lebih besar saat hubung singkat terjadi daripada yang terdapat beberapa putaran kemudian.Bila suatu hubung singkat terjadi pada kutub-kutub mesin sinkron, diperlukan waktu untuk pengurangan flux diantara celah udara itu.Pada saat plux mengecil, arus jangkar berkuran karena tegangan yang dibangkitkan oleh flux celah udara menentukan arus yang mengalir melalui resistensi dan reaktansi bocor pada kumparan jangkar.
Arus yang mengalir bila suatu generator dihubung singkat serupa dengan yang mengalir bila suatu tegangan bolak-balik tiba-tiba diterapkan ke suatu rangkaian yang terdiri dari sebuah resistensi dan reaktansi yang dihubung seri. Tetapi terdapat perbedaan-perbedaan penting karena arus dalam jangkar mempengaruhi medan yang berputar.
Dalam perhitungan arus hubung singkat pada suatu system tenaga dapat didefinisikan dari Gbr. 2.3.Arus-arus dan reaktansi-reaktansi didefinisikan oleh persamaan-persamaan berikut, yang berlaku untuk suatu generator yang bekerja tanpa beban sebelum suatu gangguan tiga fasa terjadi pada kutub-kutubnya.

Pengaman Motor

Pengaman MDP dan SDP

A. Box Panel Listrik
Box Panel listrik banyak dibuat orang untuk pengamanan dan kerapihan suatu instalasi Listrik. Tapi sedikit orang yang memahami dari fungsi box panel listrik . Ini terlihat dari pengamatan pada waktu pemasangan/ instalasi UPS. Box terlihat rumit dan tidak kelihatan jalurnya.
Dengan perencanaan yang matang dan ketelitian yang tinggi diharapkan box listrik menjadi sederhana dan mudah dimengerti. Kalau perlu ada gambar denah sederhana.
Bila sewaktu-waktu ada penambahan instalasi listrik , seperti instalasi UPS dengan daya besar. Akan dengan mudah membuat jalur dari box panel yang telah ada. UPS dengan kapasitas yang besar biasanya yang lebih dari 6 KVA ,memerlukan suatu cara pengamanan yakni dengan cara membuat jalur bypass dengan memanfaatkan MCB atau MCCB. Apabila terdapat kerusakan UPS atau instalasi listrik yang lain mudah dibenahi / diperbaiki. Dengan cara bypass ini dengan mudah mencopot UPS atau lainya, sementara listrik masih jalan.
Bagaimana gambar instalasi untuk bypass yang banyak dipakai dan aman? Untuk itu ikuti ulasan selanjutnya.Sebelum mengetahui inti permasalahan, harus mengerti fungsi dari bagian-bagaian listrik. Bagian-bagian listrik tersebut adalah: read more… !

Relai Arus Lebih

A. Pengertian Relai Proteksi
Relai adalah suatu alat yang bekerja secara otomatis untuk mengatur /memasukan suatu rangkaian listrik (rangkaian trip atau alarm) akibat adanya perubahan lain.
B. Perangkat Sistem Proteksi.
Proteksi terdiri dari seperangkat peralatan yang merupakan sistem yang terdiri dari komponen-komponen berikut :
1) Relay, sebagai alat perasa untuk mendeteksi adanya gangguan yang selanjutnya memberi perintah trip kepada Pemutus Tenaga (PMT).
2) Trafo arus dan/atau trafo tegangan sebagai alat yang mentransfer besaran listrik primer dari sistem yang diamankan ke relai (besaran listrik sekunder).
3) Pemutus Tenaga (PMT) untuk memisahkan bagian sistem yang terganggu.
4) Batere beserta alat pengisi (batere charger) sebagai sumber tenaga untuk bekerjanya relai, peralatan bantu triping.
5) Pengawatan (wiring) yang terdiri dari sisrkit sekunder (arus dan/atau tegangan), sirkit triping dan sirkit peralatan bantu.
Secara garis besar bagian dari relay proteksi terdiri dari tiga bagian utama, seperti pada blok diagram, dibawah ini :
Masing-masing elemen/bagian mempunyai fungsi sebagai berikut :
1) Elemen pengindera.
Elemen ini berfungsi untuk merasakan besaran-besaran listrik, seperti arus, tegangan, frekuensi, dan sebagainya tergantung relay yang dipergunakan. Pada bagian ini besaran yang masuk akan dirasakan keadaannya, apakah keadaan yang diproteksi itu mendapatkan gangguan atau dalam keadaan normal, untuk selanjutnya besaran tersebut dikirimkan ke elemen pembanding.
2) Elemen pembanding.
Elemen ini berfungsi menerima besaran setelah terlebih dahulu besaran itu diterima oleh elemen oleh elemen pengindera untuk membandingkan besaran listrik pada saat keadaan normal dengan besaran arus kerja relay.
3) Elemen pengukur/penentu.
Elemen ini berfungsi untuk mengadakan perubahan secara cepet pada besaran ukurnya dan akan segera memberikan isyarat untuk membuka PMT atau memberikan sinyal.
Transformator arus ( CT ) berfungsi sebagai alat pengindera yang merasakan apakah keadaan yang diproteksi dalam keadaan normal atau mendapat gangguan. Sebagai alat pembanding sekaligus alat pengukur adalah relay, yang bekerja setelah mendapatkan besaran dari alat pengindera dan membandingkan dengan besar arus penyetelan dari kerja relay.
Apabila besaran tersebut tidak setimbang atau melebihi besar arus penyetelannya, maka kumparan relay akan bekerja menarik kontak dengan cepat atau dengan waktu tunda dan memberikan perintah pada kumparan penjatuh (trip-coil) untuk bekerja melepas PMT. Sebagai sumber energi penggerak adalah sumber arus searah atau batere.
C. Fungsi dan Peranan Relai Proteksi
Maksud dan tujuan pemasangan relay proteksi adalah untuk mengidentifikasi gangguan dan memisahkan bagian jaringan yang terganggu dari bagian lain yang masih sehat serta sekaligus mengamankan bagian yang masih sehat dari kerusakan atau kerugian yang lebih besar, dengan cara :
Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya yang dapat membahayakan peralatan atau sistem.
1. Melepaskan (memisahkan) bagian sistem yang terganggu atau yang mengalami keadaan abnormal lainnya secepat mungkin sehingga kerusakan instalasi yang terganggu atau yang dilalui arus gangguan dapat dihindari atau dibatasi seminimum mungkin dan bagian sistem lainnya tetap dapat beroperasi.
2. Memberikan pengamanan cadangan bagi instalasi lainnya.
3. Memberikan pelayanan keandalan dan mutu listrik yang terbaik kepada konsumen.
4. Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.

D. Syarat-syarat Relai Proteksi
Dalam perencanaan sistem proteksi, maka untuk mendapatkan suatu sistem proteksi yang baik diperlukan persyaratan-persyaratan sebagai
berikut :
1. Sensitif.
Suatu relay proteksi bertugas mengamankan suatu alat atau suatu bagian tertentu dari suatu sisitem tenaga listrik, alat atau bagian sisitem yang termasuk dalam jangkauan pengamanannya. Relay proteksi mendeteksi adanya gangguan yang terjadi di daerah pengamanannya dan harus cukup sensitif untuk mendeteksi gangguan tersebut dengan rangsangan minimum dan bila perlu hanya mentripkan pemutus tenaga (PMT) untuk memisahkan bagian sistem yang terganggu, sedangkan bagian sistem yang sehat dalam hal ini tidak boleh terbuka.
2. Selektif.
Selektivitas dari relay proteksi adalah suatu kualitas kecermatan pemilihan dalam mengadakan pengamanan. Bagian yang terbuka dari suatu sistem oleh karena terjadinya gangguan harus sekecil mungkin, sehingga daerah yang terputus menjadi lebih kecil. Relay proteksi hanya akan bekerja selama kondisi tidak normal atau gangguan yang terjadi didaerah pengamanannya dan tidak akan bekerja pada kondisi normal atau pada keadaan gangguan yang terjadi diluar daerah pengamanannya.
3. Cepat.
Makin cepat relay proteksi bekerja, tidak hanya dapat memperkecil kemungkinan akibat gangguan, tetapi dapat memperkecil kemungkinan meluasnya akibat yang ditimbulkan oleh gangguan.
4. Handal.
Dalam keadaan normal atau sistem yang tidak pernah terganggu relay proteksi tidak bekerja selama berbulan-bulan mungkin bertahun-tahun, tetapi relay proteksi bila diperlukan harus dan pasti dapat bekerja, sebab apabila relay gagal bekerja dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah pda peralatan yang diamankan atau mengakibatkan bekerjanya relay lain sehingga daerah itu mengalami pemadaman yang lebih luas. Untuk tetap menjaga keandalannya, maka relay proteksi harus dilakukan pengujian secara periodik.
5. Ekonomis.
Dengan biaya yang sekecilnya-kecilnya diharapkan relay proteksi mempunyai kemampuan pengamanan yang sebesar-besarnya.
6. Sederhana.
Perangkat relay proteksi disyaratkan mempunyai bentuk yang sederhana dan fleksibel.

E. Relai Arus lebih atau Over Current Relay (OCR)
Relai Arus Lebih merupakan salah satu relai proteksi yang digunakan untuk mengamankan trafo daya, Neutral Grounding Resistor (NGR), dan penyulang 20 kV. Relai ini bekerja dengan cara membandingkan arus yang yang terbaca dengan nilai setelannya, bila arus yang dibaca lebih besar dari pada nilai setelan maka relai akan menge-trip-kan Pemutus Tenaga (PMT) atau circuit breaker (CB) setelah waktu tertentu. Besarnya waktu tunda ini tergantung nilai setelan relai. Pada jaringan 20 kV Relai ini berfungsi untuk memproteksi SUTM terhadap gangguan antar fasa atau tiga fasa, dan pada trafo tenaga relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap gangguan hubung singkat antar fasa didalam maupun diluar daerah pengaman transformator,
F. Prinsip Kerja Relai Arus lebih atau Over Current Relay (OCR)
Relai arus lebih bekerja dengan membaca input berupa besaran arus kemudian membandingankan dengan nilai setting, apabila nilai arus yang terbaca oleh relai melebihi nilai setting, maka relai akan mengirim perintah trip (lepas) kepada Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit Breaker (CB) setelah tunda waktu yang diterapkan pada setting.
Relai arus lebih – OCR memproteksi instalasi listrik terhadap gangguan antar fasa. Sedangkan untuk memproteki terhadap gangguan fasa tanah digunakan relai Relai Arus Gangguan tanah atau Ground Fault Relay (GFR). Prinsip kerja GFR sama dengan OCR, yang membedakan hanyalah pada fungsi dan elemen sensor arus. OCR biasanya memiliki 2 atau 3 sensor arus (untuk 2 atau 3 fasa) sedangkan GFR ahnya memiliki satu sensor arus (satu fasa).
G. Karakteristik Waktu Kerja Relai Arus Lebih (OCR)
a. Relai arus lebih seketika (instanstaneous over current relay)
Relai arus lebih dengan karakteristik waktu kerja seketika ialah jika jangka waktu relai mulai saat relai arusnya pick up (kerja) sampai selesainya kerja relai sangat singkat (20-100 ms), yaitu tanpa penundaan waktu. Relai ini pada umumnya dikombinasikan dengan relai arus lebih dengan karakteristik waktu tertentu (definite time) atau waktu terbalik (inverse time) dan hanya dalam beberapa hal berdiri sendiri secara khusus.
b. Relai arus lebih dengan karakteristik waktu tertentu (Definite time over current relay)
Relai arus lebih dengan karakteristik waktu tertentu ialah jika jangka waktu mulai relai arus pick up sampai selesainya kerja relai diperpanjang dengan nilai tertentu dan tidak tergantung dari besarnya arus yang menggerakan. Relai ini bekerja berdasarkan waktu tunda yang telah ditentukan sebelumnya dan tidak tergantung pada perbedaan besarnya arus.
c. Relai arus lebih dengan karakteristik waktu terbalik (Inverse time over current relay)
Relai dangan karakteristik waktu terbalik adalah jika jangka waktu mulai relai arus pick up sampai selesainya kerja diperpanjang dengan besarnya nilai yang berbanding terbalik dengan arus yang menggerakkan. Relai ini bekerja dengan waktu operasi berbanding terbalik terhadap besarnya arus yang terukur oleh relai. Relai ini mempunyai karakteristik kerja yang dipengaruhi baik oleh waktu maupun arus.
d. Inverse Definite Time Relay
Relai ini mempunyai karakteristik kerja berdasarkan kombinasi antara relai invers dan relai definite. Relai ini akan bekerja secara definite bila arus gangguannya besar dan bekerja secara inverse jika arus gangguannya kecil.
a. Instant
b. Definite
c. Inverse
d. Combination

Relai Jarak

Sumber Belajar

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
DI TAMAN KANAK-KANAK

A. KONSEP SUMBER BELAJAR

1. Pengertian Sumber Belajar

Sejak lama telah banyak tokoh dan pendidik mencoba merumuskan
mengenai pengertian sumber belajar, mulai dari pengertian yang luas maupun
pengertian yang sempit.
Sumber belajar dalam pengertian sempit dipahami sebagai buku-buku
atau bahan-bahan tercetak lainnya seperti majalah, buletin, dll. Pengertian
seperti ini masih banyak dipahami oleh sebagian guru TK.
Pengertian sumber belajar secara sempit lainnya menyatakan bahwa
sumber belajar diartikan sebagai semua sarana pengajaran yang dapat
menyajikan pesan yang dapat didengar saja (secara auditif) maupun yang dapat
dilihat (secara visual) saja, misalnya radio, televisi dan perangkat keras
(hardware) lainnya.
Adapun pengertian sumber belajar yang lebih luas dapat dilihat dari
beberapa pendapat ahli berikut ini :
Torkleson (1965) mengatakan bahwa sumber belajar adalah segala
apa yang ada di sekolah pada masa lalu, sekarang dan pada masa yang akan
datang. Pengertian ini sangat luas cakupannya karena tidak merinci dan
menjelaskan jenis-jenis sumber belajar secara khusus.
Nana Sudjana (1997) mendefinisikan sumber belajar sebagai segala
daya yang dapat dimanfaatkan guna memberi kemudahan kepada seseorang
dalam belajarnya. Pengertian ini memberikan pengertian sumber belajar dalam
arti luas juga. Sumber belajar diartikan sebagai daya yang dapat dimanfaatkan
untuk kepentingan proses pembelajaran baik secara langsung maupun tidak
langsung, sebagian atau secara keseluruhan.
AECT (Association for Education Communication and
Technology) memberikan batasan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang
berupa pesan, manusia, material, (media software), peralatan (hardware), teknik
(metode) dan lingkungan yang digunakan secara sendiri-sendiri maupun
dikombinasikan untuk memfasilitasi terjadinya kegiatan belajar.

Pengertian sumber belajar menurut AECT ini menguraikan secara rinci jenis-jenis sumber
belajar yang dapat digunakan dalam kegiatan pendidikan meliputi pesan, orang,
bahan, peralatan, taknik dan lingkungan sekitar.
Anggani Sudono (1995) mengartikan sumber belajar adalah segala
macam bahan yang dapat digunakan untuk memberikan informasi maupun
keterampilan kepada siswa maupun guru. Pengertian yang diungkapkan oleh
Anggrani Sudono tersebut memberikan penguatan terhadap aspek manfaat dari
sumber belajar yang tidak hanya terfokus pada anak melainkan juga terhadap
guru. Pemanfaatan sumber belajar selain bermanfaat untuk anak juga memiliki
nilai manfaat bagi guru. Guru juga memperoleh informasi dan juga keterampilan
dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar.
Demikianlah berbagai pengertian mengenai sumber belajar yang telah
dikemukakan oleh para ahli, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian
sumber belajar untuk anak TK adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk
kepentingan pembelajaran meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan
lingkungan baik secara tersendiri maupun terkombinasi yang memberikan
kemudahan pada anak untuk belajar.

2. Jenis-jenis Sumber Belajar

Sumber belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran di taman
kanak-kanak sangat banyak dan beragam. Secara umum dilihat dari sisi
pengembangannya sumber belajar itu dapat dibedakan dalam dua macam yaitu
sumber belajar yang khusus dirancang (resource by design) dan sumber belajar
yang digunakan atau dimanfaatkan (resource by utilization).
Sumber belajar yang dirancang adalah segala sumber belajar yang
sengaja di rancang atau didesain untuk kepentingan pencapaian tujuan
pembelajaran tertentu. Misalnya buku cerita untuk anak yang sengaja dirancang
untuk tujuan menyampaikan pesan moral dan mengembangkan kemampuan
bahasa sesuai dengan perkembangan anak TK, dirancang dengan desain
khusus secara menarik dan dilengkapi gambar-gambar kesukaan anak. Contoh
sederhana tersebut menunjukkan pada kita bahwa ada unsur kesengajaan dalam
pembuatan buku cerita tersebut.
Adapun sumber belajar yang dimanfaatkan atau digunakan adalah
sumber belajar yang tidak dirancang untuk kepentingan tujuan pembelajaran
tertentu tetapi dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Sumber belajar
ini dimanfaatkan guna memberi kemudahan kepada seseorang dalam belajar.

3

Contoh sumber belajar jenis ini adalah pasar, toko, musem, tokoh masyarakat
dsb yang ada dilingkungan kita.
AECT (Association for Education Communication and Technology)
membagi sumber belajar ke dalam enam jenis yaitu pesan, orang, bahan,
peralatan, teknik dan lingkungan. Agar Anda memahami secara lebih mendalam
mengenai keenam jenis sumber ini dijelaskan sebagai berikut :

2.1. Pesan (message). Pesan sebagai sumber belajar di taman kanak-kanak
adalah segala informasi yang disalurkan oleh sumber lain dalam bentuk
ide, fakta, arti dan data. Contohnya semua ajaran atau materi
pembelajaran untuk anak TK. Materi atau pesan bahan ajar tersebut harus
disampaikan oleh komponen lain yaitu guru. Guru menyampaikan segala
bahan ajar sehingga anak mendapat pengetahuan dan informasi tertentu.
2.2. Orang (people) yaitu manusia yang bertindak seagai penyimpan,
pengelola dan penyaji pesan. Tidak termasuk mereka yang menjalankan
fungsi pengembangan dan pengelola sumber belajar. Contohnya guru,
anak TK atau narasumber yang sengaja dilibatkan dalam proses
pembelajaran. Tidak termasuk peniliti atau dokter gigi yang hanya
memeriksa gigi kesehatan gigi anak TK dll. Dalam hal ini peneliti atau
dokter didi tersebut tidak dilibatkan langsung dalam proses pembelajaran.
2.3. Bahan (materials) yaitu sesuatu yang mengandung pesan untuk disajikan
baik melalui bantuan alat maupun oleh dirinya sendiri. Contohnya buku,
majalah, kaset, dll.
2.4. Peralatan (device) sesuatu yang menampilkan pesan yang tersimpan
dalam bahan, contohnya pesawat radio, televisi, dll.
2.5. Metode (technique) adalah prosedur yang disiapkan dalam
memepergunakan bahan pelajaran, peralatan, situasi, dan orang yang
menyampaikan pesan. Contohnya metode ceramah, tanya jawab, simulasi,
demonstrasi, dll.
2.6. Lingkungan (setting) yaitu situasi sekitar dimana pesan diterima misalnya
ruangan kelas, perpustakaan, taman, kebun binatang, dll.

3. Identifikasi Kebutuhan Sumber Belajar

Perencanaan sumber belajar dapat dimulai dengan mengadakan
identifikasi kebutuhan sumber belajar di suatu lingkungan pendidikan anak TK.
Kebutuhan-kebutuhan ini dirumuskan melalui observasi atau pengamatan,
wawancara atau diskusi tentang masalah pendidikan, khususnya masalah yang
berkenaan dengan penggunaan sumber belajar untuk meningkatkan kualitas
proses pembelajaran anak TK.
Berdasarkan identifikasi kebutuhan tersebut guru mendapat data
tentang jenis-jenis sumber belajar yang dibutuhkan untuk program
pembelajaran anak TK. Jenis-jenis sumber belajar yang diidentifikasi tersebut
dapat disesuaikan dengan tema, kemampuan dan tujuan yang diinginkan. Data
kebutuhan ini dirinci untuk bahan pertimbangan dalam rencana pengadaan
sumber belajar.
Identifikasi kebutuhan sumber belajar ini dapat dirancang oleh guru
menurut format sederhana sebagai berikut :
Tema/
Subtema
Kemampuan indikator
hasil belajar
Jenis sumber
belajar
Keterangan

Aku

Bahasa :
– Anak dapat menirukan
kembali urutan angka,
urutan kata (latihan
pendengaran)
– Anak dapat mengikuti
beberapa perintah
sekaligus, dst.

Boneka tangan,
boneka jari, buku
cerita, gambar
berseri, dst.

– Boneka
tangan dapat
dibuat dari
kain perca,
dst.

Identifikasi kebutuhan sumber belajar di TK dapat kita lakukan
dengan melalui beberapa langkah berikut ini :
3.1. Langkah awal adalah dengan terlebih dahulu memilih tema yang akan
dikembangkan. Tema tersebut adalah pokok bahasan yang perlu
dikembangkan lebih lanjut oleh guru TK, contohnya tema, aku, negaraku
dll.

3.2. Guru mengidentifikasi kemampuan atau kompetensi yang harus dimiliki
oleh anak. Kemampuan atau komptensi yang harus dimiliki dapat dilihat
atau berdasarkan acuan dalam dokumen kurikulum.
3.3. Guru mengidentifikasi kemampuan yang hendak dicapai, guru mengenal
berbagai karakteristik sumber belajar yang memungkinkan untuk
digunakan.

Kegiatan analisis kebutuhan sumber belajar tersebut akan
menghasilkan data berupa daftar kebutuhan sumber belajar sesuai dengan
tema dan indikator kemampuan yang diharapkan, selanjutnya data tersebut
dapat digunakan untuk rencana pengadaan sumber belajar lebih lanjut.

B. MEDIA PEMBELAJARAN

Kegiatan pembelajaran pada dasarnya merupakan proses komunikasi.
Dalam proses komunikasi tersebut, guru bertindak sebagai komunikator yang
bertugas menyampaikan pesan pembelajaran (message) kepada penerima pesan
yaitu anak. Agar pesan-pesan pembelajaran yang disampaikan guru dapat diterima
dengan baik oleh anak maka dalam proses komunikasi pembelajaran tersebut
diperlukan wahana penyalur pesan yang disebut media pembelajaran.
Peran media dalam komunikasi pembelajaran di taman kanak-kanak
semakin penting artinya mengingat perkembangan anak pada saat ini dalam masa
kongkret. Dengan demikian, pembelajaran di TK harus menggunakan sesuatu yang
memungkinkan anak dapat belajar secara kongkret. Hal tersebut mengisyaratkan
perlunya digunakan media sebagai saluran penyampai pesan dari guru kepada
anak didik agar pesan atau informasi tersebut dapat diserap anak dengan baik.

1. Pengertian Media Pembelajaran

Menurut Heinich, Molenda dan Russel (1993) media merupakan
saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk
jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara, yaitu perantara
sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver).
Dalam situasi pembelajaran di TK terdapat pesan-pesan yang harus
dikomunikasikan. Pesan tersebut biasanya merupakan isi dari tema atau topik
pembelajaran. Pesan-pesan tersebut disampaikan oleh guru kepada anak
melalui suatu media dengan menggunakan suatu prosedur pembelajaran tertentu

6

yang disebut metode. Masih terdapat pengertian lain yang dikemukakan oleh
beberapa ahli diantaranya media diartikan sebagai berikut :
a. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan
pembelajaran (Schramm, 1977).
b. Sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran seperti buku,
film, video, slide dsb (riggs, 1997).
c. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk
teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969).

Setelah mencermati beberapa pengertian diatas, ternyata yang disebut
dengan media pembelajaran itu selalu terdiri atas dua unsur penting yaitu unsur
peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya
(message atau software). Unsur pesan (software) adalah informasi atau bahan
ajar dalam tema atau topik tertentu yang akan disampaikan atau dipelajari anak
sedangkan unsur perangkat keras (hardware) adalah sarana atau peralatan yang
digunakan untuk menyajikan pesan tersebut. Dengan demikian, sesuatu baru
dikatakan media pembelajaran jika sudah memenuhi dua unsur tersebut.
Sebagai ilustrasi, pesawat televisi belum berfungsi sebagai media
pembelajaran apabila tidak mengandung pesan-pesan yang akan dipelajari anak,
jadi pesawat televisi baru merupakan alat atau hardware saja. Agar dapat disebut
sebagai program atau acara yang mengandung informasi atau pesan atau bahan
ajar yang akan dipelajari anak. Namun apabila Anda misalnya saja
menggunakan pesawat televisi sebagai alat peraga untuk memperkenalkan
kepada anak tentang komponen-komponen yang ada dalam pesawat telivisi dan
cara kerjanya maka pesawat televisi tersebut dapat berfungsi sebagai media
pembelajaran.
Dari tujuan ilustrasi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pesan tidak
harus selalu berasal dari media tetapi dapat berasal dari guru atau siapa saja
yang menggunakan media tersebut untuk menyampaikan pesan.
Media sering diidentikkan dengan berbagai jenis peralatan atau
sarana. Memang media dapat dikatakan sebagai sarana atau peralatan untuk
menyajikan pesan, namun yang terpenting bukanlah peralatannya, tetapi pesan
belajar yang dibawa oleh media tersebut atau guru yang memanfaatkannya.
Dengan demikian pengertian media pembelajaran dapat disimpulkan
sebagai berikut :

1.1. Media merupakan peralatan yang digunakan dalam peristiwa komunikasi
dengan tujuan membuat komunikasi lebih obyektif
1.2. Media pembelajaran merupakan peralatan pembawa pesan atau wahana
dari pesan yang oleh sumber pesan (guru) ingin diteruskan kepada penerima
pesan (anak)
1.3. Pesan yang disampaikan adalah isi pembelajaran dalam bentuk tema atau
topic pembelajaran
1.4. Tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar pada diri anak.

2. Nilai dan Manfaat Media Pembelajaran

Masih banyak guru saai ini yang menganggap bahwa peran media
dalam proses pembelajaran hanya terbatas sebagai alat bantu semata dan boleh
diabaikan manakala media itu tidak tersedia di sekolah. Guru TK yang
professional harus memiliki pandangan sebaliknya, yaitu bahwa media itu
merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Media
pembelajaran merupakan salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri, tetapi
saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan
situasi belajar yang diharapkan. Tanpa media maka proses pembelajaran tidak
akan berjalan dengan efektif.
Berikut ini secara rinci lagi diungkapkan mengenai nilai-nilai yang
dimiliki media pembelajaran dalam mengoptimalkan pencapaian hasil belajar
dengan TK.

2.1. Nilai media pembelajaran
2.1.1. Mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak.
Konsep-konsep yang dirasakan masih bersifat abstrak dan sulit
dijelaskan secara langsung kepada anak TK bisa dijelaskan melalui
pemanfaatan media pembelajaran. Misalnya untuk menjelaskan
tentang keadaan siang dan malam, kehidupan di air dan sebagainya
bisa menggunakan media visual berupa film atau gambar sederhana.
2.1.2. Menghadirkan obyek-obyek yang terlalu berbahaya atau sukar untuk
di bawa ke dalam lingkungan belajar, misalnya guru menjelaskan
dengan menggunakan gambar atau media telivisi atau bahkan
hewan-hewan yang sudah punah seperti dinosaurus dll.
2.1.3. Menampilkan obyek yang terlalu besar.

Melalui media, guru dapat menyampaikan gambaran mengenai
sebuah kapal laut, pesawat udara, pasar, candi, dan sebagainya di
depan kelas, atau menampilkan obyek-obyek yang terlalu kecil
seperti bakteri, virus, semut, nyamuk dll.
2.1.4. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat.
Dengan menggunakan media film (slow motion) guru bisa
memperlihatkan lintasan peluru, melesatnya anak panah atau
memperlihatkan proses suatu ledakan. Demikian juga gerakan-gerakan yang terlalu lambat seperti pertumbuhan kecambah,
mekarnya bunga dan sebagainya menjadi obyek yang dapat diamati
dalam waktu singkat.

2.2. Manfaat media pembelajaran
Selain keempat nilai media pembelajaran di atas masih terdapat
pula nilai-nilai yang lainnya dari pemanfaatan media pembelajaran di TK
yaitu berikut ini :
2.2.1. Memungkinkan anak berinteraksi secara langsung dengan
lingkungannya.
2.2.2. Memungkinkan adanya keseragaman pengamatan atau persepsi
belajar pada masing-masing anak.
2.2.3. Membangkitkan motivasi belajar anak.
2.2.4. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang
maupun disimpan menurut kebutuhan.
2.2.5. Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak bagi
seluruh anak.
2.2.6. Mengatasi keterbatasan waktu dan ruang.
2.2.7. Mengontrol arah dak kecepatan belajar anak.

3. Jenis dan Karakteristik Media Pembelajaran

Media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu
media visual, media audio dan media audiovisual. Berikut secara singkat
diuraikan keterangan dari masing-masing jenis dan karakteristik media
pembelajaran tersebut :

3.1. Media Visual
Media visual adalah media yang menyampaikan pesan melalui
penglihatan pemirsa atau media yang hanya dapat dilihat. Jenis media visual
ini nampaknya yang paling sering digunakan oleh guru TK untuk
menyampaikan isi dari tema pembelajaran yang sedang dipelajari. Media
visual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected visual) dan
media yang tidak dapat diproyeksikan (non projected visual).
Media visual yang diproyeksikan pada dasarnya merupakan
media yang menggunakan alat proyeksi (disebut proyektor) untuk
menayangkan gambar atau tulisan yang akan nampak pada layar (screen).
Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam misalnya gambar
diam (still picture) dan proyeksi gerak misalnya gambar bergerak (motion
picture). Alat proyeksi tersebut membutuhkan aliran listrik dan membutuhkan
ruangan tertentu yang cukup memadai, baik dari segi ukuran maupun
intensitas cahayanya.
Jenis-jenis alat proyeksi yang biasa digunakan untuk
menyampaikan pesan pembelajaran di TK diantaranya OHP (Overhead
Projector) dan slide suara (soundslide). Bagi lembaga-lembaga TK yang ada
di daerah perkotaan yang memiliki kemampuan untuk memiliki alat proyeksi
ini tentu sangat menguntungkan sebab pembelajaran bisa ditata lebih
menarik perhatian dibandingkan dengan media yang tidak diproyeksikan.
Namun pada umumnya lembaga TK di daerah-daerah tertentu terutama di
pedesaan, belum memungkinkan untuk mengadakan media proyeksi ini
sebab bagi mereka masih sangat mahal harganya. Disamping itu diperlukan
kemampuan-kemampuan khusus yang memadai dari para guru dalam
menggunakan dan memelihara alat proyeksi tersebut.
Media visual yang tidak diproyeksikan terdiri atas media
gambaran diam, media grafis, media model dan media realia.

3.1.1. Gambar diam atau gambar mati adalah gambar-gambar yang
disajikan secara fotografik atau seperti fotografik misalnya gambar
tentang manusia, binatang, tempat atau obyek lainnya yang ada
kaitannya dengan bahan atau isi tema yang diajarkan. Gambar diam
ini ada yang bersifat tunggal ada juga yang berseri yaitu berupa
sekumpulan gambar diam yang saling berhubungan satu dengan
yang lainnya.

3.1.2. Media grafis adalah media pandang dua dimensi (bukan fotografik)
yang dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan pesan-pesan pembelajaran. Unsur-unsur yang terdapat dalam media grafis
adalah gambar dan tulisan. Media ini dapat digunakan untuk
mengungkapkan fakta atau gagasan melalui penggunaan kata-kata,
angka serta bentuk symbol (lambing). Bila Anda akan menggunakan
media grafis ini Anda harus memahami dan mengerti arti symbol-simbolnya sehingga media ini akan lebih efektif untuk menyajikan isi
tema kepada anak. Karakteristik media ini, sederhana, dapat menarik
perhatian, murah dan mudah disimpan dan dibawa. Jenis media
grafis ini diantaranya grafik, bagan, diagram, poster, kartun dan
komik.
3.1.3. Media model adalah media tida dimensi yang sering digunakan
dalam pembelajaran di TK, media ini merupakan tiruan dari beberapa
obyek nyata, seperti obyek yang terlalu besar, obyek yang terlalu
jauh, obyek yang terlalu kecil, obyek yang terlalu mahal, obyek yang
jarang ditemukan atau obyek yang terlalu rumit untuk dibawa
kedalam kelas dan sulit dipelajari wujud aslinya. Jenis-jenis media
model diantaranya adalah model padat (solid model), model
penampang (cutaway model), model susun (build-up model), model
kerja (working model) mock-up dan diorama. Masing-masing jenis
model tersebut ukurannya mungkin persis sama dengan obyek
sesungguhnya, mungkin juga lebih kecil atau lebih besar dair obyek
yang sesungguhnya.
3.1.4. Media realia merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang
berfungsi memberikan pengalaman langsng (direct experience)
kepada anak. Realia ini merupakan benda yang sesungguhnya
contohnya mata uang, tumbuhan, binatang yang tidak berbahaya dll.

3.2. Media Audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam
bentuk auditif (hanya dapat di dengar) yang dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan kemauan anak untuk mempelajari isi tema. Contoh
media audio adalah program kaset suara dan program radio. Penggunaan
media audio dalam kegiatan pembelajaran di TK pada umumnya untuk
melatih keterampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek keterampilan
mendengarkan.
Terdapat beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan
apabila akan menggunakan media audio di TK yaitu sebagai berikut :
3.2.1. Media ini hanya mampu melayani secara baik mereka yang sudah
memiliki kemampuan dalam berfikir abstrak sedangkan kita
mengetahui bahwa anak TK masih dalam proses dari berfikir
kongkret kepada berfikir abstrak. Oleh karena itu dalam penggunaan
media audio untuk anak TK, kita perlu melakukan berbagai modifikasi
yang disesuaikan dengan kemampuan anak. Jika tujuan
pembelajarannya adalah melatih pendengaran anak, sebelum
menggunakan media audio kita harus memberikan gambaran
kongkret dari mana bunyi itu berasal. Misalnya kita ingin anak dapat
menebak suara hewan apa yang didengarnya dari kaset audio. Maka
sebelumnya anak harus megenal hewan-hewan tersebut secara
kongkret dan mengetahui bagaimana bunyinya.
3.2.2. Media ini memerlukan pemusatan perhatian yang lebih tinggi
disbanding media lainnya. Oleh karena itu, jika kan menggunakan
media ini di Tk dibutuhkan teknik tertentu yang sesuai dengan
kemampuan anak.
3.2.3. Karena sifatnya yang auditif jika ingin hasil belajar yang dicapai anak
lebih optimal, diperlukan juga pengalaman-pengalaman secara
visual. kontrol belajar bisa dilakukan melalui penguasaan
perbendaharaan kata-kata, bahasa dan susunan kalimat

3.3. Media Audiovisual
Sesuai dengan namanya, media ini merupakan kombinasi dari
media audio dan media visual atau biasa disebut media pandang dengar.
Dengan menggunakan media audiovisual ini maka penyajian isi tema
kepada anak akan semakin lengkap dan optimal. Selain itu media ini dalam
batas-batas tertentu dapat menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal
ini guru tidak selalu berperan sebagai penyampai materi karena penyajian
materi bisa diganti oleh media. Peran guru bisa beralih menjadi fasilitator
belajar, yaitu memberikan kemudahan bagi anak untuk belajar. Contoh dari
media audiovisual ini diantaranya program televisi, program video
pendidikan, program slide suara dsb.
3.4. Media Pembelajaran Sederhana
Berdasarkan pemikiran bahwa media pembelajaran jumlahnya
banyak dan jenisnya sangat bervariasi, disamping itu saat ini masih banyak
lembaga TK yang belum mampu memiliki berbagai jenis media
pembelajaran yang lengkap dan bervariasi karena keterbatasan dana
terutama di daerah pedesaan, maka alternative yang paling memungkinkan
diterapkan secara lebih luas adalah pemanfaatan media pembelajaran yang
sifatnya sederhana namun tetap relevan dengan pencapaian kemampuan
yang diharapkan dikuasai anak.
Media pembelajaran sederhana adalah jenis media yang
memiliki ciri-ciri mudah dibuat, bahan-bahannya mudah diperoleh, mudah
digunakan serta harganya relatif murah. Jenis media yang dapat
diklasifikasikan ke dalam media pembelajaran sederhana yaitu, meliputi
media visual yang terdiri atas media gambar diam, media grafis, media
model dan media realia. Pada dasarnya pemberian status media
pembelajaran sederhana ini sifatnya relatif yaitu tergantung kepada kondisi
lembaga TK itu sendiri. Pada satu lembaga TK sebuah media tersebut
mungkin dianggap sederhana tetapi pada lembaga TK yang lain media
tersebut mungkin dianggap terlalu mahal dan rumit atau sebaliknya.

3.4.1. Pembuatan Media Pembelajaran Sederhana
Dalam kenyataannya di lembaga TK guru seringkali
dihadapkan pada persoalan memilih media yang sesuai untuk anak
TK. Kesulitan memilih media itu bukan disebabkan oleh
ketidakmampuan guru dalam memilih media tetapi karena media
yang dibutuhkan dan sesuai memang tidak tersedia. Untuk
memecahkan persoalan tersebut guru diharapkan dapat mengadakan
media tersebut dengan merancang, menggambarkan dan membuat
sendiri media yang diperlukan terutama media pembelajaran
sederhana.
Media pembelajaran sederhana kali yang diketengahkan
diantaranya media flip chart danm display papan tikar. Contoh media
tersebut disertai dengan langkah teknis pembuatannya. Walaupun
yang disajikan sangat terbatas, diharapkan menjadi acuan untuk
berkreasi dalam pembuatan media pembelajaran sederhana untuk
anak TK disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat.

13

Flip Chart

Flip chart adalah lembaran kertas yang berisi pesan atau bahan
pelajaran yang tersusun rapi dan baik. Flip chart ini dapat digunakan oleh
guru TK sebagai salah satu cara untuk menghemat waktu yang digunakan
untuk menulis di papan tulis.
Pesan penyajian dalam flip chart ini dapat berupa : a) gambar-gambar, b) diagram, c) huruf-huruf dan d) angka-angka. Adapun chart itu
sendiri dapat terbuat dari lembaran kertas karton atau jenis HVS yang cukup
tebal. Penggunaan kertas tebal tentu saja agar kertas tidak mudah robek
dan tidak ada bayangan antara satu kertas dengan kertas lain sehingga
pesan gambar atau tulisan tidak tumpang tindih dengan gambar di lembaran
berikutnya.
Adapun cara pembuatan flip chart adalah sebagai berikut :
1) Lembaran kertas yang sama ukurannya dijilid jadi satu.
2) Lubangi kertas chart sedemikian rupa agar mudah dijadikan satu jilid.
3) Buatlah dua bingkai kayu yang di ikat bersama dengan kertas chart oleh
dua baut.
4) Pada ujung bingkai dibuat lubang tempat menggantung tali pita.
5) Chart dengan bingkai kayu dijadikan satu dengan baut atau ring.
6) Flip chart dapat digantungkan pada papan tulis yang tidak menempel di
dinding.

Ukuran flip chart dapat disesuaikan dengan jumlah dan jauhnya
jarak anak dapat melihat chart tersebut, demikian juga penempatan flip chart
harus direncanakan yang sesuai di mana dan bagaimana media tersebut
ditempatkan.

Media Display Papan Tikar

Papan tikar adalah media visual yang efektif untuk menyajikan
pesan-pesan tertentu pada anak TK. Papan berlapis tikar ini cukup praktis
karena gambar-gambar yang akan disajikan dapat dipasang dan dilepas
dengan mudah sehingga dapat dipakai berkali-kali. Selain untuk menempel
gambar-gambar dapat pula dipakai menempelkan huruf dan angka-angka.
Papan tikar memberikan penyajian seketika selain menarik perhatian anak
penggunaan papan tikar dapat membuat sajian lebih efisien.

Kelebihan papan tikar :
1) Karena kesederhanaannya papan tikar dapat dibuat sendiri oleh guru
2) Dapat dipersiapkan terlebih dahulu dengan teliti
3) Dapat memusatkan perhatian anak terhadap sesuatu masalah yang
dibicarakan
4) Dapat menghemat waktu pembelajaran karena segala sesuatunya sudah
dipersiapkan dan anak dapat melihat sendiri secara langsung.

Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan papan tikar adalah :
a. Triplek
b. Tikar pandan
c. Paku
d. Kayu untuk bingkai
e. Alat pemotong dan palu
f. Cat, pernis dan kuas

Cara membuat :
Jika bahan yang diperlukan sudah tersedia maka pekerjaan
selanjutnya adalah :
1) Memotong triplek dengan ukuran yang dikehendaki
2) Memotong tikar dengan ukuran yang sesuai dengan triplek selanjutnya
dilekatkan dengan paku
3) Member bingkai pada pinggiran triplek agar penampilannya menjadi kuat
4) Selanjutnya dicat atau dipernis agar lebih menarik
5) Membuat gantungan papa sehingga memudahkan dalam penggunaan
6) Karena terbuat dari tikar untuk menempelkan gambar dapat dibantu
dengan menggunakan klip kertas atau paku paying

C. Alat Permainan Edukatif ( APE )

Guru TK hendaknya memiliki pehamaman tentang alat permainan
khususnya alat permainan edukatif yang digunakan untuk anak TK karena selain
untuk memenuhi kebutuhan naluri bermain juga sebagai sumber yang mutlak untuk
mengembangkan seluruh aspek perkembangannya.

1. Pengertian Alat Permainan Edukatif

Alat permainan adalah semua alat yang digunakan anak untuk
memenuhi kebutuhan bermainnya. Walaupun kegiatan bermain ada yang
dilakukan tanpa alat tetapi kebanyakan kegiatan bermain justru menggunakan
alat. Lembaga pendidikan TK tanpa alat permainan yang memadai tidak akan
berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang baik, karena alat permainan ini
akan memberikan rasa senang serta merangsang anak untuk melakukan
kegiatan pembelajaran.
Berbeda dengan alat permainan umumnya, istilah alat permainan
edukatif banyak ditemukan di TK. Jadi apakah alat permainan edukatif itu ?
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang sengaja
dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan (Mayke S,Tersebut,
1995). Berkaitan dengan alat permainan untuk anak TK maka pengertian APE
untuk anak TK adalah alat permainan yang dirancang untuk tujuan
meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak TK.

1.1. Ciri-ciri APE

Lebih jauh lagi alat permainan dapat dikategorikan sebagai alat
permainan edukatif untuk anak TK jika memenuhi ciri-ciri sebagai berikut :
1) Ditujukan untuk anak TK
2) Berfungsi untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak
TK
3) Aman atau tidak berbahaya untuk anak
4) Dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk dan untuk bermacam
tujuan aspek pengembangan atau bermanfaat multiguna
5) Dirancang untuk mendorong aktifitas dan kreatifitas
6) Bersifat konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan
7) Mengandung nilai pendidikan

1.2. Fungsi APE

Adapun alat permainan edukatif itu sendiri berfungsi sebagai :
1) Alat untuk membantu dan mendukung proses pembelajaran anak TK
agar lebih baik, menarik dan jelas
2) Mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak
3) Member kesempatan pada anak TK untuk memperoleh pengetahuan
baru dan memperkaya pengalamannya dengan berbagai alat
permainan
4) Member kesempatan pada anak TK untuk mengenal lingkungan dan
mengajarkan pada anak untuk mengetahui kekuatan dirinya.

2. Jenis-jenis Alat Permainan Edukatif

Dewasa ini ada beraneka ragam jenis alat permainan edukatif untuk
anak anak TK telah dikembangkan di lembaga pendidikan TK dan pada
umumnya jenis-jenis APE yang dikembangkan saat ini berakar dari jenis alat
permainan yang telah lebih dulu dikembangkan oleh para ahli dan juga ada
yang dibuat berdasarkan kreasi guru itu sendiri disesuaikan dengan kebutuhan
dan kondisi lingkungan setempat.
Berikut ini beberapa jenis alat permainan edukatif yang diciptakan oleh
para ahli tersebut :

2.1. APE untuk kemampuan berbahasa

APE ini dikembangkan oleh kakak beradik Elizabeth Peabody
yang terdiri atas dua boneka tangan. Boneka tangan tersebut berfungsi
sebagai tokoh mediator dengan nama P. Money dan Joey. Boneka tadi
dilengkapi dengan papan magnet, gambar-gambar, piringan hitam berisi
lagu dan tema cerita serta kantong pintar sebagai pelengkap.
APE karya Peabody ini memberikan program pengetahuan yang
mengacu pada aspek pengembangan bahasa yaitu perbendaharaan kosa
kata yang dekat dengan anak. Oleh karena itu tema-tema yang dipilih dan
diramu harus sesuai dengan pengetahuan dan budaya anak setempat.

2.2. APE ciptaan Montessori

Dr. Maria Montessori menciptakan alat permainan edukatif yang
memudahkan anak untuk mengingat konsep-konsep yang akan dipelajari
anak tanpa perlu bimbingan sehingga memungkinkan anak bekerja secara
mandiri. APE ciptaannya ini telah dirancang sedemikian rupa sehingga
anak mudah memeriksa sendiri bila salah dan segera menyadarinya. APE
ciptaan Montessori ini contohnya puzzle bentuk geometrid dan silinder
dengan ukuran serial.

2.3. APE Ciptaan Cruissenaire

George Cruissenaire mencipatkan balok sesuai dengan
namanya yaitu blok cruissenaire untuk menggambarkan kemampuan
berhitung anak, pengenalan bilangan dan untuk peningkatan keterampilan
anak dalam bernalar.
Balok cruissenaire terdiri dari balok-balok yang berukuran :
1x1x1 cm dengan warna kayu asli
2x1x1 cm berwarna merah
3x1x1 cm berwarna hijau muda
4x1x1 cm berwarna merah muda
5x1x1 cm berwarna kuning
6x1x1 cm berwarna hijau tua
7x1x1 cm berwarna hitam
8x1x1 cm berwarna coklat
9x1x1 cm berwarna biru tua
10x1x1 cm berwarna jingga

2.4. APE Ciptaan Frobel

Frobel memiliki alat khusus yang dikenal dengan balok Blockdoss
yang berupa balok-balok yaitu satu kotak besar berukuran 20×20 cm yang
didalamnya terdiri dari balok-balok kecil sebagai ukuran yang merupakan
kelipannya.

3. Pemilihan Alat Permainan Edukatif

Langkah awal untuk menggunakan alat permainan edukatif untuk anak
TK adalah melakukan pemilihan alat permainan yang tepat yaitu dilakukan
dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :
3.1. Memilih alat permainan yang tidak berbahaya bagi anak.
3.2. Pilihan bukan berdasarkan pilihan guru tetapi berdasarkan minat anak.
3.3. Alat permainan sebaliknya bervariasi sehingga anak dapat bereksplorasi
dengan berbagai macam alat permainan akan tetapi tidak terlalu banyak
karena akan membingungkan anak.
3.4. Tingkat kesulitan sebaliknya disesuaikan dengan tentang usia anak TK
yaitu 4-5 tahun untuk kelompok A dan 5-6 tahun untuk kelompok B
3.5. Alat permainan tidak mudah rapuh.
3.6. Tidak memilih alat permainan berdasarkan urutan usia karena ada anak
yang lambar perkembangannya dari anak-anak seusianya atau sebaliknya
maka yang menjadi dasar pemilihan alat permainan lebih pada
perkembangan fisik dan mental anak secara individual.

4. Prinsip-prinsip Penggunaan APE

Praktek penggunaan alat permainan edukatif dimungkinkan bervariasi
asalkan selalu diingat prinsip dan tujuan penggunaannya. Adapun prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan guru dalam penggunaan alat permainan edukatif untuk
anakt TK adalah sebagai berikut :
4.1. Guru hendaknya memberikan kebebasan sebanyak mungkin pada anak
untuk berekspresi menggunakan berbagai alat permainan edukatif.
4.2. Merencanakan waktu, mengatur tempat dan menyajikan beraneka alat
permainan edukatif sedemikian rupa sehingga merangsang anak untuk
melakukan kegiatan bermain yang bersifat kreatif.
4.3. Memberikan rangsangan dan bimbingan kepada anak TK untuk
menemukan teknik dan cara-cara yang baik dalam melakukan kegiatan
dengan bermacam-macam APE.
4.4. Memupuk keberanian anak dalam mencipta dan menghindarkan petunjuk-petunjuk yang dapat mengurangi keberanian dan perkembangan anak.
4.5. Memberikan bimbingan dan pembinaan sesuai dengan kemampuan dan
taraf perkembangan anak.

4.6. Memnerikan bimbingan dan pembinaan sesuai dengan kemampuan dan
petunjuk-petunjuk yang dapat memupuk keberanian dan perkembangan
anak.
4.7. Memberikan rasa gembira pada anak.
4.8. Melakukan pengawasan menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan
bermain menggunakan APE ini.
4.9. Pada waktu pelaksanaan guru memperoleh kesempatan yang sebaik-baiknya untuk melihat minat dan bakat anak masing-masing sehingga
bimbingan dan pembinaan dapat diberikan secara individual, tepat guna,
sesuai minat, bakat dan kemampuan anak.

5. Pembuatan Alat Permainan Edukatif

Uraian dibawah ini akan memberikan pemahaman untuk membuat
rancangan APE bagi anak TK. Walaupun pengadaan APE dapat dilakukan
dengan cara membeli yang sudah jadi tetapi ketebatasan dana dan ketepatan
ukuran dan syarat alat permainan sebagai APE terkadang menjadi kendala. Oleh
karena itu Anda dapat berkreasi dengan merancang dan membuatnya dari
bahan-bahan yang ada disekitar.
Guru TK hendaknya dibekali kemampuan membuat dan menciptakan
karya yang orisinil berupa alat edukatif edukatif ini. Kemampuan tersebut
diperlukan karena guru adalah pemegang kendali dalam proses pembelajaran
anak TK tersebut dan dengan alat permainan edukatif yang memadailah
pengembangan aspek kemampuan anak TK ini akan cepat berkembang.
Kesungguhan hati dan imajinasi dalam menciptakan APE dengan
menggunakan bahan yang ada di lingkungan sekitar anak sangat diperlukan
sehinggga keterbatasan dana tidak lagi menjadi kendala dalam berkarya cipta.
Ketika membuat APE guru hendaknya memperhatikan syarat-syarat pemubuatan
APE dan prosedur APE yang merupakan langkah umum yang harus dilakukan
untuk mengambil keputusan dalam membuat APE.

5.1. Syarat-syarat Pembuatan APE adalah sebagai berikut :
5.1.1. Syarat Edukatif
a) APE dibuat dengan disesuaikan dengan memperhatikan program
kegiatan pendidikan yang berlaku.

b) APE yang dibuat disesuaikan dengan didaktik metodik artinya
dapat membantu keberhasilan kegiatan pendidikan, mendorong
aktifitas dan kreatifitas anak dan sesuai dengan kemampuan
atau tahap perkembangan anak.

5.1.2. Syarat Teknis
a) APE dirancang sesuai dengan tujuan, fungsi sarana (tidak
menimbulkan kesalahan konsep), contoh dalam membuat balok
bangunan ketepatan bentuk dan ukuran yang akurat mutlak
dipenuhi karena jika ukurannya tidak tepat akan menimbulkan
kesalahan konsep.
b) APE hendaknya multiguna, walaupun ditujukan untuk tujuan
tertentu tidak menutup kemungkinan digunakan untuk tujuan
pengembangan yang lain.
c) APE dibuat dengan menggunakan bahan yang mudah didapat
dilingkungan sekitar, murah atau dari bahan bekas sekalipun.
d) Aman atau tidak mengandung unsur yang membahayakan anak
misalnya tajam, beracun dll.
e) APE hendaknya awet, kuat dan tahan lama (tetap efektif walau
cuaca berubah).
f) Mudah dalam pemakaian, menambah kesenangan anak untuk
bereksperimen dan bereksplorasi.
g) Dapat digunakan secara individual, kelompok dan klasikal.

5.1.3. Syarat Estetika
a) Bentuk yang elastic, ringan sehingga mudah dibawa anak.
b) Keserasian ukuran (tidak terlalu besar atau terlalu kecil).
c) Kombinasi warna serasi dan menarik.

5.2. Prosedur Pembuatan APE
Adapun prosedur pembuatan APE dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
5.2.1. Guru mempelajari dan menguasai rencana program kegiatan
terutama mengenai kemampuan-kemampuan yang harus dicapai
oleh anak.

5.2.2. Guru melakukan analisi program pendidikan dengan maksud
mengetahui hubungan antara kemampuan yang akan dicapai anak
dengan jenis kegiatan yang akan dilakukan dan sarana yang
diperlukan.
5.2.3. Menginventarisasi sarana atau alat permainan yang ada.
5.2.4. Memeriksa kelengkapan alat menyangkut kelengkapan setiap jenis
dan jumlah yang diperlukan.
5.2.5. Memeriksa fungsi alat yang ada, apakah masih berfungsi dengan
baik atau tidak.
5.2.6. Mengidentifikasi kebutuhan sarana yang diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan pembelajaran.
5.2.7. Merencanakan pembuatan APE.
5.2.8. Melaksanakan pembuatan APE.

Berikut ini contoh pembuatan APE untuk anak usia 4-5 tahun.
Anak pada rentang usia ini biasanya senang dengan pengalaman baru.
Alat permainan yang dapat menstimulasi kebutuhan anak tersebut
contohnya botol aroma.

Pembuatan Botol Aroma

Botol aroma disenangi anak-anak usia 4-5 tahun. Adapun jenis
aroma yang dapat digunakan adalah aroma sabun, kapur barus, kulit jeruk,
cengkih, kopi dll.

Bahan yang diperlukan
a. Botol plastic lebih aman
b. Kain kasa untuk menutup mulut botol
c. Bila botol tembus pandang sebaiknya ditutup dengan kain katun atau
benang wol
d. Lem uhu
e. Botol boleh dibentuk sesuka hati sesuai dengan selera anak
f. Bahan lainnya sesuai dengan desain yang dibuat (kain perca, pita, renda
dll)

Cara membuatnya
1) Membuat sketsa lebih dahulu sesuai dengan bentuk yang dikehendaki.
2) Siapkan beberapa buah botol plastic, setiap botol diisi satu jenis aroma
yang berbeda satu sama lain.
3) Tutup masing-masing botol dengan kain kasa.
4) Botol tembus pandang ditutup kain atau benang wol dikreasikan sesuai
dengan desain yang dikehendaki.

Saran dalam pembuatan
Bahan yang digunakan dalam pembuatan botol aroma ini adalah
bahan-bahan bekas pakai, contohnya botol plastic bekas minuman ringan
(vitacharm/yakult) selain botolnya ringan (relatif kecil) sehingga
memudahkan anak memegangnya. Jika botol dikreasikan dengan
menggunakan kain perca, pilihlah kain katun dengan warna terang dan
corak yang disukai anak-anak. Hindari penggunaan aroma yang berbentuk
karena akan terhisap melalui kasa kassa.

Pembuatan Kantong Keterampilan Tangan

Kantong ini dimainkan oleh anak usia 5-6 tahun terbuat dari
kain katun yang dibentuk sedemikian rupa sederhana tapi menarik untuk
anak. Satu set kantong ini terdiri dari tujuh macam yaitu :
1. Kantong yang ditutup dengan resulting
2. Kantong yang ditutup dengan kancing tekan
3. Kantong yang ditutup dengan tali sepatu
4. Kantong yang ditutup dengan kancing lobang
5. Kantong yang ditutup dengan kancing kait besar
6. Kantong yang ditutup dengan kancing kait kecil
7. Kantong yang diisi dengan dakron atau kapas

Cara membuatnya :
1) Buatlah desain berdasarkan urutan dengan kantong terluar lebih besar
dari yang didalam begitu seterusnya.
2) Ukuran kantong terluar disesuaikan dengan panjang resulting yang akan
dipasang.
3) Desainlah kantong dengan bentuk yang menarik.
4) Lakukan proses pemasangan resulting, kancing, dll dengan
menggunakan mesin jahit atau dijahit dengan jahit tangan.

Kepustakaan
Anderson, Ronald H. (1993), Pemilihan dan Pengembangan Media untuk
Pembelajaran, Jakarta : UT dan PT Raja Grafindo Persada
Beaty, Jenice I. (1996), Skills for Preschool Teacher, Merill, an imprint of Prentice
Hall
Eliyawati, C. dkk. (2005), Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar untuk
Anak Usia Dini, Jakarta, Dikti Depdiknas
Heinich, Molenda and Russel (1993) Instructional Media, New York, Mcmillan
Publishing Company
Hamalik, Oemar (1986) Media Pendidikan, Bandung, Alumni
Krogh, Suzanne L (1994) Educating Young Children, Mc Graw Hill, Inc.
Mudhoffir (1992) Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar, Bandung,
Ramadja Rosdakarya
Roopnarine, Jl and Johnson I.E. (1993) Instructional Technology, The Definitions
and Domains of the Field, Washington, DC, AECT
Zaman, Badru, dkk (2005) Media dan Sumber Belajar TK, Modul UT, Jakarta,
Universitas Terbuka

Hakekat Belajar dan Pembelajaran

Hakekat Belajar dan Pembelajaran

A.  Definisi Pendidikan, Belajar, dan Pembelajaran

Berikut beberapa pengertian tentang pendidikan, belajar, dan pembelajaran:

  1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. (UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 1).
  2. Moh. Surya (1997): “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.”
  3. Witherington (1952): “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.”
  4. Crow & Crow (1958): “Belajar adalah diperolehnya kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru.”Hilgard (1962): “Belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi.”
  5. Di Vesta dan Thompson (1970): “Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman.”
  6. Gage & Berliner : “Belajar adalah proses perubahan perilaku yang muncul karena pengalaman.”
  7. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.(UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 20).

 

B.  Pandangan Masyarakat tentang Belajar dan Pembelajaran

Tidak sedikit masyarakat yang mengetahui tentang hakikat belajar dan pembelajaran yang sebenarnya (sesuai dengan definisi-definisi diatas), mereka yang mengetahui lebih banyak yang memang berkecimpung di bidang kependidikan. Tidak sedikit pula masyarakat yang belum mengetahui tentang hakikat belajar dan pembelajaran yang sebenarnya. Mereka lebih memaknai bahwa guru bertugas mengajar dan siswa yang diajar.

Dalam hal ini berarti guru adalah pemain dan siswa penonton, komunikasi hanya satu arah dari guru ke siswa, guru masih dominan dan siswa yang pasif. Demikian pula pada siswa, karena terbiasa menjadi penonton dalam kelas, mereka sudah merasa nikmat dengan kondisi menerima konsep daripada memberi atau mengungkapkan konsep yang dipahami sebelumnya. Inilah beberapa paradigma masyarakat tentang hakikat belajar dan pembelajaran, setiap paradigma yang mereka pahami akan terlihat hasil akhirnya pada peserta didiknya.

 

I.     Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik dikenal dengan istilah kompentensi. Peserta didik yang kompeten mengandung arti bahwa peserta didik telah memahami, memaknai, dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan kata lain, peserta didik telah bisa melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill).

Dalam ilmu pendidikan belajar pada intinya adalah usaha untuk mewujudkan perubahan tingkah laku. Tingkah laku akan berubah jika mempelajari sesuatu yang belum pernah diketahui sebelumnya, kemudian mengetahui, paham, dan mampu menerapkannya. Perubahan tingkah laku ini yang akan menentukan masa depan setiap orang yang belajar. Inilah hakikat pembelajaran, yaitu membekali peserta didik untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa “tanpa tergantung pada orang lain”, karena ia telah memiliki kompetensi kecakapan hidup.

Seseorang yang belajar dengan sungguh-sungguh perubahan perilaku akan terwujud. Menurut Moh. Surya (1997) cirri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu:

1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional)

Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan.

2. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)

Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan  pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.

3. Perubahan yang konvensional

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang.

1. Perubahan yang bersifat positif

Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menunjukkan ke arah kemajuan.

2. Perubahan yang bersifat aktif

Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.

3. Perubahan yang bersifat permanen

Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya.

4. Perubahan yang bertujuan dan terarah

Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang

5. Perubahan perilaku secara keseluruhan

Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh perubahan dalam sikap dan keterampilan.

 

Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, maka berbarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Justru dapat dikatakan, bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar, maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat. Di dalam masa perkembangan psikologi pendidikan di jaman mutakhir ini muncullah secara beruntun aliran psikologi pendidikan masing-masing yaitu :

a)       Psikologi behavioristik

b)      Psikologi kognitif

c)       Psikologi humanistik

 

  • Pertama, pandangan yang berasal dari aliran psikologi behavioristik. Menurut pandangan ini, belajar dilaksanakan dengan kontrol instrumental dari lingkungan. Guru mengkondisikan sedemikian sehingga pembelajar atau siswa mau belajar. Mengajar dengan demikian dilaksanakan dengan kondisioning, pembiasaan, peniruan. Hadiah dan hukuman sering ditawarkan dalam mengajar dan belajar demikian. Kedaulatan guru dalam belajar demikian relatif tinggi, sementara kedaulatan siswa sebalikya, relatif rendah.
  • Kedua, pandangan yang berasal dari psikologi humanistik. Pandangan humanistik ini merupakan anti tesa pandangan behavioristik. Dalam pandangan demikian, belajar dapat dilakukan sendiri oleh siswa. Dalam belajar demikian siswa senantiasa menemukan sendiri mengenai sesuatu tanpa banyak campur tangan dari guru. Peranan guru dalam mengajar dan belajar demikian relatif rendah, sementara kedaulatan guru relatif rendah.
  • Ketiga, pandangan yang berasal dari psikologi kognitif. Pandangan ini merupakan konvergensi dari pandangan behavioristik dan humanistik. Menurut pandangan demikian belajar merupakan perpaduan dari usaha pribadi dengan kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Oleh karena itu, metode belajar yang cocok dalam pandangan ini adalah eksperimentasi.

 

  II.     Ciri – Ciri Belajar Dan Pembelajaran

  • Ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut :
  1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).
  2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
  3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
  4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.

 

  • Ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut :

1. Merupakan upaya sadar dan disengaja

2. Pembelajaran harus membuat siswa belajar

3. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan

4. Pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu, proses maupun hasilnya

 

Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya pengalaman. Oleh karena itu, ada sejumlah ciri belajar yang dapat dibedakan dengan kegiatan-kegiatan lain selain belajar. Pertama, belajar dibedakan dengan kematangan. Kedua, belajar dibedakan dengan perubahan kondisi fisik dan mental. Ketiga hasil belajar bersifat relatif menetap.

Berdasarkan pengertian belajar diatas. maka pada hakikatnya “belajar menunjuk ke perubahan dalam tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalamannya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah taku tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecendrungan-kecendrungan respon bawaan, kematangan atau keadaan temporer dari subjek (misalnya keletihan, dsb)”.

 

1)      Belajar berbeda dari kematangan.

Kematangan adalah sesuatu yang dialami oleh manusia karena perkembangan-perkembangan bawaan. Tanpa melalui aktivitas belajarpun, pada saat tertentu, orang akan mengalami kematangan. Oleh karena itu, kematangan akan dialami oleh seseorang, meskipun ia sendiri tidak mensengaja. Kematangan yang ada pada diri seseorang juga bukan karena satu upaya yang dilakukan oleh orang lain (misalnya saja guru).

Kematangan umumnya ditandai oleh adanya perubahan-perubahan pada diri seseorang, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Adanya perubahan pada diri seseorang semisal dari belum bisa berjalan pada umur tertentu menjadi bisa berjalan pada umur selanjutnya, tidaklah akibat dari aktivitas belajar. Demikian juga, dari seseorang belum bisa berbkara kemudian menjadi bisa berbkara, juga bukan karena aktivitas belajar melainkan karena adanya proses kematangan.

Berbeda dengan belajar, ia adalah suatu proses yang disengaja dan secara sadar. Belajar adalah suatu aktivitas yang dirancang, atau sebagai akibat interaksi antara individu dengan lingkungannya.

 

2)      Belajar dibedakan dari perubahan kondisi fisik dan mental.

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang disengaja. Perubahan tersebut bisa berupa dari tidak talm menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak dapat mengerjakan sesuatu menjadi dapat mengedakan sesuatu, dari memberikan respon yang salah atas stimulus-stimulus ke arah memberikan respon yang benar. Berarti perubahan fisik dari kecil menjadi besar, dari kurus menjadi gemuk, dan pendek menjadi semakin tinggi bukanlah karena proses belajar, dan oleh karena itu tidak dapat disebut sebagai proses belajar.

 

3)      Hasil belajar relatif menetap

Hasil belajar relatif menetap, dan tidak berubah-ubah. Perubahan tingkah laku yang sifatnya relatif tidak menetap, bukanlah karena proses belajar. Orang setiap kali dapat berubah. Perubahan-perubahan demikian, tidak sama dengan perubahan-perubahan dalam belajar. Oleh karena itu, tidak semua perubahan yang ada pada diri seseorang dianggap sebagai hasil belajar. Hanya perubahan-perubahan tertentu saja yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai belajar.

 

Menurut Robert M. Gagne, manusia memilki beragam potensi, karakter, dan kebutuhan dalam belajar. Karena itu banyak tipe-tipe belajar yang dilakukan manusia. Gagne mencatat ada delapan tipe belajar:

  1. Belajar isyarat (signal learning). Menurut Gagne, ternyata tidak semua reaksi sepontan manusia terhadap stimulus sebenarnya tidak menimbulkan respon.dalam konteks inilah signal learning terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada muridnya yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian diturunkan.
  2. Belajar stimulus respon. Belajar tipe ini memberikan respon yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu (shaping). Contohnya yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru member pertanyaan kemudian murid menjawab.
  3. Belajar merantaikan (chaining). Tipe ini merupakan belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya membentuk rangkaian gerak dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya.
  4. Belajar asosiasi verbal (verbal Association). Tipe ini merupakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Contohnya yaitu Membuat langkah kerja dari suatu praktek dengan bntuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek kayu.
  5. Belajar membedakan (discrimination). Tipe belajar ini memberikan reaksi yang berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan. Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan sebuah bentuk (kubus) siswa menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.
  6. Belajar konsep (concept learning). Belajar mengklsifikasikan stimulus, atau menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. (konsep : satuan arti yang mewakili kesamaan ciri). Contohnya yaitu memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau konsep dalam kuliah mekanika teknik.
  7. Belajar dalil (rule learning). Tipe ini meruoakan tipe belajar untuk menghasilkan aturan atau kaidah yang terdiri dari penggabungan beberapa konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat. Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu hukuman diberikan supaya siswa tidak mengulangi kesalahannya.
  8. Belajar memecahkan masalah (problem solving). Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order rule). Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada siswa-siswanya untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari masalah tersebut

Menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.

 

Menurut Bloom ada tiga domain belajar yaitu :

 

1. Cognitive Domain (Kawasan Kognitif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang bias diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini tediri dari:

• Pengetahuan (Knowledge).

• Pemahaman (Comprehension).

• Penerapan (Aplication)

• Penguraian (Analysis).

• Memadukan (Synthesis).

• Penilaian (Evaluation).

 

2. Affective Domain (Kawasan afektif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:

• Penerimaan (receiving/attending).

• Sambutan (responding).

• Penilaian (valuing).

• Pengorganisasian (organization).

• Karakterisasi (characterization)

 

3. Psychomotor Domain (Kawasan psikomotorik). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari:

• Kesiapan (set)

• Meniru (imitation)

• Membiasakan (habitual)

• Adaptasi (adaption)

 

Berikut beberapa faktor pendorong mengapa manusia memiliki keinginan untuk belajar:

  1. Adanya dorongan rasa ingin tahu
  2. Adanya keinginan untuk menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai tuntutan zaman dan lingkungan sekitarnya.
  3. Mengutip dari istilah Abraham Maslow bahwa segala aktivitas manusia didasari atas kebutuhan yang harus dipenuhi dari kebutuhan biologis sampai aktualisasi diri.
  4. Untuk melakukan penyempurnaan dari apa yang telah diketahuinya.
  5. Agar mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya.
  6. Untuk meningkatkan intelektualitas dan mengembangkan potensi diri.
  7. Untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.
  8. Untuk mengisi waktu luang